Rabu, 25 Maret 2009

pendidikan tinggi

Artikel 1.
Pemberian Laptop baru bagi mahasiswa berprestasi tahun 2009, Sekolah Tinggi Informatika & Komputer Indonesia (STIKI) / STMIK INDONESIA

Dalam rangka memacu prestasi dan memberikan semangat bagi mahasiswa STIKI khususnya mahasiswa angkatan 2008, pada hari Sabtu tanggal 14 Maret 2009 di kampus ELANG tepatnya di Ruangan 6 akan diberikan sejumlah 19 Laptop baru bagi mahasiswa yang berprestasi. Pemberian Laptop ini merupakan program khusus yang diberikan pada setiap tahun bagi mahasiswa baru. Komitmen STIKI yang telah berdiri sejak tahun 1984 dan merupakan sekolah komputer pertama di Jawa Timur, yaitu selalu meningkatkan mutu proses belajar mengajar dengan melakukan perbaikan kurikulum, perbaikan sarana dan fasilitas laboratorium serta tidak kalah pentingnya adalah peningkatan sumber daya manusia baik itu karyawan, dosen dan juga mahasiswa.

Pada tahun 2009 ini akan segera diberikan langsung dan disaksikan oleh para vendor seperti Indosat, Ebiz, Lenovo, Axioo,Zyrex dan juga asuransi AXA, CAR serta diliput langsung oleh Radio (live) oleh Radio Citra Malang dan beberapa koran nasional. Pemberian Laptop dengan spesifikasi Processor Intel Core 2 Duo dan RAM 2 GB dengan layar 17” untuk mahasiswa tahun 2008 ini sejumlah 19 orang dengan melalui serangkaian seleksi akademis dan pertimbangan khusus yaitu bagi mereka yang memiliki IPK minimal 3.25 serta keaktifan siswa yang bersangkutan.
Dengan pemberian Laptop baru secara cuma-cuma tersebut diharapkan oleh Ketua STIKI Ibu Eva Handriyantini M.MT dapat memacu semangat belajar agar selalu tetap berprestasi tidak hanya dalam kampus, tetapi juga diharapkan dapat diteruskan di dunia kerja setelah mereka lulus nanti. Seluruh civitas akademika STIKI mengucapkan “selamat dan sukses” bagi mahasiswa penerima laptop baru semoga semakin semangat belajar dan terbanglah seperti burung ELANG kepakkan sayapmu setinggi mungkin gapailah masa depan yang lebih cerah dan cintailah negara Indonesia tercinta ini dengan semangat dan kerja kerasmu.

Artikel 2.
Kiat bijak memilih Perguruan Tinggi Menuju Indonesia Bangkit

Keputusan melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi merupakan pilihan yang ideal. Mengingat persaingan SDM semakin ketat dan penuh kejutan. Siapapun tidak mau menjadi pecundang, sebaliknya mereka ingin menjadi pemenang ditengah-tengah kehidupan manusia.
Keterbatasan sumberdaya ditengah-tengah kesulitan perekonomian keluarga dan rendahnya informasi, menjadikan memilih perguruan tinggi adalah pekerjaan yang sulit. Keputusan yang salah pada akhirnya akan membawa penyesalan dan pengorbanan yang besar. Arah putar jam tidak mungkin diputar balik kembali.
Berikut ini disampaikan beberapa kiat sukes memilih pergurun tinggi:
1. Menguji derajat kemauan untuk studi lanjut.
Kegagalan memilih perguruan tinggi dapat menjadi kenyataan dengan melihat seberapa kuat kemauan dan semangat calon mahasiswa itu sendiri. Apapun pilihannya, jika dilaksanakan dengan tekad kuat dan semangat yang tinggi akan memperkecil resiko kegagalan, dan membuka peluang kesuksesan berkarier. Ibarat batu keras yang menerima tetesan air secara terus menerus tanpa henti pada akhirnya batu tersebut akan pecah juga. Kapan batu tersebut pecah? Berapa lama batu tersebut akan pecah bergantung pada ketinggian air, tekanan air, debit air dan sebagainya. Dalam konteks ini, bergantung pada minat dan bakat saudara?
2. Menguji minat dan bakat
Minat dan bakat adalah dua hal yang berbeda. Peminat belum tentu Pebakat, sedangkan Pebakat sering tidak ingin menjadi Peminat. Seorang yang meraih kesuksesan sejati, yaitu seseorang yang memiliki bakat sekaligus memiliki minat yang tinggi. Ia memiliki kemampuan untuk mengembangkan bakatnya guna meraih karier yang gemilang.
Sebagai ilustrasi, banyak peminat olah raga sepak bola. Mereka mampu menahan kantuknya dan mengorbankan pekerjaan esok harinya demi sepakbola. Namun hanya sedikit diantaranya yang juga berbakat. Sebaliknya seorang yang memiliki suara emas tetapi tidak berminat menekuni dunia tarik suara, ia tidak dapat memanfaatkan kesempatan menjadi bintang terkenal (superstar). Ternyata bidang akuntanlah yang dipilihnya.
Minat dan bakat adalah penting, tetapi jauh lebih penting adalah minat. Dengan modal minat yang kuat, tantangan dan hambatan apapun dapat diminimalisir. Selanjutnya melalui celah sekecil apapun tantangan dan hambatan tersebut dapat diubah menjadi peluang kesuksesan.
3. Menguji Isi kantong
Isi hati seseorang adalah se-dalam lautan samudera dan tidak ada seorangpun yang tahu pasti. Sebaliknya isi kantong, walau tidak mudah tetapi tidak sesulit mengetahui isi hati seseorang. Isi kantong yang harus dikorbankan para orang tua dapat diperhitungkan sebelum pengambilan keputusan memilih perguruan tinggi.
Sejatinya pendidikan yang berkualitas adalah pendidikan yang didukung dana besar. Jadi sudah sewajarnya Pendidikan berkualitas adalah mahal. Sehingga biaya penyelenggaraan perguruan tinggi yang berkualitas-pun menjadi mahal. Jika biaya pendidikan di bebankan seluruhnya kepada para orang tua mahasiswa, maka beban orang tua menjadi berat. Selanjutnya yang terjadi adalah kesempatan pendidikan tinggi kualitas hanya dapat dinikmati bagi orang kaya saja.
Bagi yang memiliki kendala dana, tidak perlu pernah kuatir. Karena tersedia pilihan cerdas untuk dapat melanjutkan studi ke perguruan tinggi negeri/kedinasan atau swasta yang memiliki ciri-ciri sebagai berkut :

  • Memiliki Visi yang tegas menjadi kampus yang berorientasi “Sosial”
  • Memiliki sumber pemasukan yang besar di luar SPP mahasiswa
  • Memiliki akses dana yang kuat (pemerintah dan swasta)
  • Memiliki program Beasiswa

4. Menguji Orientasi dan komitment perguruan tinggi
Perguruan tinggi telah hadir menawarkan berbagai program pendidikan. Perguruan tinggi ternama dan “tak bernama” pun sibuk mempromoskan kampusnya. Ada yang memanfaatkan media televisi, radio, internet, koran, majalah, tabloid, spanduk, poster, pamflet, brosur. Intinya tawaran mereka semuanya, menarik dan menjanjikan.
Selanjutnya para orang tua dan calon mahasiswa menjadi bingung untuk memilih, sehingga ukuran yang paling mudah untuk dijadikan acuan dalam memilih perguruan tinggi adalah kesesuaian kemampuan keuangan orang tua dengan biaya pendidikan (SPP, Sumbangan gedung, kemahasiswaan, dll). Jika hal itu yang dilakukan, maka hal tersebut merupakan kesalahan besar. Seharusnya jangan terburu-buru dalam mengambil keputusan. Orientasi dan komitmen perguruan tinggi perlu diuji.
Idealnya, Orientasi perguruan tinggi adalah berorientasi pada penciptaan lulusan yang memiliki keahlian dan kompetensi serta keberanian membuka lapangan kerja daripada penambahan angkatan kerja.
Selanjutnya, perhatikan komitmen perguruan tinggi. Perguruan tinggi yang baik seyogyanya memiliki komitmen bahwa mahasiswa adalah subjek bukan objek pendidikan. Dengan berpegang teguh pada komitmen demikian, maka diharapkan proses belajar mengajar dapat berjalan secara efektif, efisien dan sinergis.

5. Menguji program studi (Prodi)

Kesesuaian antara minat dan bakat calon manahsiswa dengan prodi yang akan dipilih merupakan pekerjaan tidak mudah. Sekurang-kurangnya ada tiga hal yang harus diperhatikan: (1) Minat dan bakat, (2) ketersediaan prodi, (3) prospek lulusan prodi. Idealnya suatu pilihan meliputi kesesuaian ketiga hal diatas. Kondisi ideal adalah mahasiswa kuliah pada prodi yang sesuai dengan yang memiliki minat dan bakat, dimana lulusan prodi tersebut dibutuhkan oleh pasar pengguna lulusan.

Kondisi ideal memang sulit diwujudkan. Pada kenyataanya, seringkali yang terjadi hanya merupakan kombinasi sebagian dari beberapa hal tersebut diatas, yaitu kekuatan minat mahasiswa dan prodi yang kualitas. Walaupun demikian tidak perlu kuatir bahwa upaya tersebut apakah dapat mewujudkan prospek lulusan.
Prospek lulusan menjadi sempit jika orientasi lulusan adalah menjadi pekerja. Tetapi prospek berubah dari sempit menjadi luas ketika orientasi bergeser dari seorang pekerja bergeser menjadi wirausaha. Program studi yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi berbasis kewirausahaan "entrepreneurship", "technopreneurship", atau "infopreneurship" adalah perguruan tinggi masa depan dan pantas dijadikan pilihan.
5. Menguji sumberdaya perguruan tinggi
Ketersediaan Fasilitas fisik yang memadai diperlukan guna mendukung proses belajar mengajar efektif, fasilitas yang diperlukan seperti kecukupan ruang kuliah, ruang dosen, ruang laboratorium, studio, ruang unit pelaksana teknis, ruang instalasi, ruang kantor, dan sebagainya adalah penting. Sekarang adalah era informasi, maka yang perlu diperhatikan adalah ketersediaan sarana pembelajaran yang mengarah pada penyelenggaraan pendidikan berbasis ICT (information and communications technology. Mengingat media internet merupakan sumber perkembangan ilmu pengetahuan dan terapan, maka peranan ICT menjadi syarat terpenting bagaimana mewujudkan keberhasilan proses pembelajaran. Melalui ICT diharapkan perguruan tinggi mampu menjawab kebutuhan pasar pengguna lulusan.
Ketersediaan Fasilitas e-learning (kuliah jarak jauh langsung) adalah ciri-ciri perguruan tinggi yang telah memanfaatkan ICT bagi proses belar mengajar.
7. Menguji Status
Ada dua (dua) legalitas minimal setiap program studi selaku penyelenggara pendidikan di perguruan tinggi. Pertama, ijin penyelenggaraan pendidikan yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas, dimana ijin penyelenggaraan dapat diperpanjang setiap lima tahun. Kedua, status akreditasi yang di keluarkan oleh Badan Akreditasi Nasional Depdiknas dengan peringkat A, B, C dan tidak terakreditasi. Peringkat menunjukkan tingkat kemampuan proses penyelenggaran tingkat program studi dilihat dari berbagai aspek, seperti: jumlah dan kualifikasi pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana pendidikan, pembiayaan pendidikan, sistem evaluasi dan sertifikasi, serta manajemen dan proses pendidikan.
Menurut UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 61 ayat 2: “Ijazah diberikan kepada peserta didik sebagai pengakuan terhadap prestasi belajar dan/atau penyelesaian suatu jenjang pendidikan setelah lulus ujian yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang terakreditasi.
Jadi status akreditasi sendiri tidak menjadi bermakna jika orientasi lulusan bukan menjadi pekerja, tetapi menjadi wirausaha yang mandiri. Selembar kertas berupa ijazah bukan untuk melamar pekerjaan semata, tetapi merupakan bukti perserta didik pantas menjadi lulusan perguruan tinggi dengan ciri-ciri lulusan: kritis, kreatif, inovatif, rasional dan berorientasi solusi bukan ilusi.
8. Menguji Keyakinan.
Terakhir, apapun pilihannya harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Ketika pilihan sudah diputuskan pantang mundur ke belakang. Kegagalan diawali ketika munculnya keraguan.
Pendidikan kualias adalah mahal dan butuh pengorbanan besar. Pengorbanan adalah investasi, dan investasi pendidikan adalah investasi jangka panjang. Hasil dari investasi pendidikan tidak dengan cepat dapat dirasakan manfaatnya bagi stakeholder.
9. Penutup
Warisan harta yang melimpah kepada anak yang tak berilmu akan habis dalam waktu singkat, tetapi warisan ilmu akan kekal sampai akhir hayat. Anak yang berilmu dapat memelihara harta orang tuanya, bahkan harta tersebut akan tumbuh dan berkembang serta bermanfaat bagi kemaslahatan umat manusia.
Anak bangsa yang berilmu dapat memelihara kekayaan bangsa dan negara. Anak bangsa berilmu adalah SDM yang memiliki daya saing tinggi dan menjadi modal utama kemajuan dan kemadirian bangsa. Bangsa yang mandiri adalah bangsa yang menghargai sejarah dan karya sesama anak bangsa. Dengan demikian kita dapat mewujudkan Indonesia sebagai bangsa yang kuat dan berdaulat.
Bangsa yang kuat harus didukung ekonomi yang kuat. Kedaulatan Ekonomi bangsa menjadi syarat penting kedaulatan bangsa. Melalui kesempatan studi lanjut ke perguruan tinggi diharapkan dapat mewujudkan Indonesia yang mandiri. Tanpa mengecilkan arti anak bangsa yang tidak berkesempatan menikmati belajar di perguruan tinggi, maka kepada lulusan perguruan tinggi, yaitu dokter, guru, insinyur, ekonom, sosiolog, akuntan, peneliti, notaris, apoteker dan profesi lainnya diharapkan dapat berpartisipasi membangun masyarakat peduli produk Indonesia sebagai syarat mewujudkan Indonesia Mandiri !

Artikel 3.
Mahasiswa Tuntut Jaminan Memilih
By Republika Newsroom
Rabu, 25 Maret 2009 pukul 18:21:00
JAKARTA–Mahasiswa yang sedang menjalankan studi di luar kampung halamannya menuntut jaminan agar bisa ikut berpartisipasi dalam pemilu. Alasannya, mereka terdaftar sebagai pemilih di kampung halaman, sehingga tidak bisa memilih di kota tempat mereka berkuliah.

“Mayoritas mahasiswa Indonesia yang bukan berasal dari daerah universitasnya memiliki kesulitan untuk proses pindah Tempat Pemungutan Suara (TPS),” kata Koordinator BEM Seluruh Indonesia, Suranto Wahyu, di kantor KPU, Rabu (25/3). Puluhan mahasiswa melakukan unjuk rasa menuntut jaminan untuk ikut memilih.

Wahyu menambahkan, mahasiswa Indonesia yang ada di perantauan dan terancam tidak bisa ikut memilih itu sebanyak satu juta orang. “Angka tersebut tersebar di seluruh nusantara, di antaranya 40 ribu di Semarang, 20 ribu di Jogyakarta, 40 ribu di Sumatera, 20 ribu di Bogor, 15 ribu di Bandung, 10 ribu di Surabaya.

“Jika potensi besar dari mahasiswa itu tidak tersalurkan, maka pemilu 2009 dikatakan gagal,” kata Wahyu. KPU sebagai penyelenggara pemilu harus bertanggung jawab atas suara mahasiswa yang terancam tidak tersalurkan. Mereka menuntut KPU memberi kemudahan kepada mahasiswa untuk memilih.

Anggota KPU, Endang Sulastri, mengatakan, pemilih bisa mengikuti pemungutan suara di daerah lain dengan membawa surat suara dari TPS asal. “Pemilih yang pindah itu bisa memilih di TPS lain dengan membawa formulir dari TPS asal,” kata Endang. Oleh karenanya, pemilih diharap bisa memeriksa namanya di TPS asal.

“Di Daftar Pemilih Tetap (DPT) itu sekurang-kurangnya ada Nomor Induk Kependudukan (NIK), nama, tempat tinggal, dan tanggal lahir,” kata Endang. Dia menambahkan, banyak masyarakat tidak punya NIK dan bukan ranah KPU untuk memberikan, sehingga masih ada pemilih yang belum terdaftar.

Menurut Endang, jumlah pemilih tidak bisa terus menerus disesuaikan hingga hari pemungutan suara. Dalam DPT yang sudah ada juga dimungkinkan ada pemilih yang meninggal dunia. “KPPS berwenang untuk ‘membersihkan’ DPT dari pemilih-pemilih dengan kondisi seperti itu,” katanya. ikh/kpo

Artikel 4.

Ngeblog Berhadiah Tiket ke Belanda

By Republika Newsroom
Rabu, 11 Maret 2009 pukul 19:27:00
JAKARTA - Ada kesempatan menarik bagi yang ingin pergi ke Belanda sekaligus belajar gratis. Neso Indonesia, lembaga non profit yang mewakili pendidikan tinggi Belanda di Indonesia, bekerja sama dengan dagdigdug menyelenggarakan kompetisi blog ”Studi di Belanda”.


Kompetisi yang terbuka untuk kalangan wartawan dan non wartawan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat umum mengenai studi lanjutan berbahasa Inggris di Belanda. Peluncuran kompetisi blog ini dihadiri oleh Direktur Neso Indonesia, Marrik Bellen, Antyo Rentjoko, perwakilan dari dagdigdug dan Raditya Dika, salah seorang juri, di Jakarta, Rabu (11/3).

“Untuk meningkatkan kesadaran studi di Belanda bagi masyarakat Indonesia, Neso mengikuti perkembangan perilaku pencari informasi studi di luar negeri. Kami melihat bahwa blog merupakan salah satu media alternatif yang efektif menyebarkan informasi," Marrik Bellen, Direktur Neso Indonesia.

Melalui kompetisi ini lanjut Marrik Bellen, diharapkan masyarakat mengetahui dua hal utama berkaitan dengan kompetisi, pertama untuk studi lanjutan ke Belanda mereka tidak harus belajar bahasa Belanda lebih dulu. Kedua, kualitas dan reputasi pendidikan tinggi Belanda yang sudah diakui dunia.

"Laporan Times Higher Education Supplemen mencatat hampir 90% universitas Belanda berada dalam peringkat 200 universitas teratas.” Imbuh Marrik Bellen.

Pelaksanaan kompetisi blog ini juga bertujuan untuk memberikan ruang bagi masyarakat umum dan wartawan-wartawan dalam menyampaikan opininya mengenai pendidikan tinggi di Belanda.

Kompetisi blog ini dibagi dalam dua kategori yakni wartawan dan non wartawan dengan cara menuangkan opini mereka di blog pribadinya. Penjurian dilakukan berdasarkan kriteria kesesuaian dengan tema, isi dan popularitas posting. Neso Indonesia menggandeng dagdigdug sebagai salah satu penyedia blog hosting di Indonesia yang sudah memiliki reputasi di kalangan blogger.

"Blog adalah pilihan praktis untuk menampung dan menyiarkan karya tulis. Sebagai perusahaan yang peduli kepada pendidikan dan pengembangan diri, dagdigdug mendukung kompetisi ini sepenuh hati. dagdigdug juga ingin membuktikan bahwa ’ngeblog’ itu membawa banyak manfaat," ungkap Antyo Rentjoko, salah satu pendiri dagdigdug yang juga seorang blogger.

Kompetisi ini terbuka bagi wartawan dan non wartawan yang memiliki blog pribadi dan berdomisili di Indonesia selama kompetisi berlangsung. Tema yang ditawarkan bagi kategori wartawan adalah ”Belanda sebagai negara tujuan studi” dan ”Studi di Belanda, ticket to a global community” untuk kategori non wartawan. Kompetisi akan berlangsung mulai 15 Maret dan berakhir pada 30 April 2009. Informasi lengkap mengenai syarat dan ketentuan serta cara mengikuti kompetisi ini bisa dilihat di http://kompetiblog.studidibelanda.com

Lebih lanjut mengenai kompetisi blog ”Studi di Belanda” Marrik Bellen mengatakan, pemenang dari masing-masing kategori akan berkesempatan mengikuti Summer Course selama dua minggu (6-17 Juli 2009) di Utrecht University Summer School, Utrecht, Belanda.

"Di sana mereka akan dapat merasakan langsung suka duka menjadi bagian dari mahasiswa internasional di Belanda, dan memperoleh referensi mengenai budaya dan identitas bangsa Eropa secara umum, Pemenang akan diminta untuk menuliskan pengalamannya selama di Belanda lewat blognya" paparnya.

Tahun 2008, Neso Indonesia mengundang Raditya Dika, blogger Kambing Jantan untuk mengikuti summer course dengan tajuk European Cultures and Identities di Belanda selama dua minggu. Pengalaman Radit selama berada di Belanda dituangkan dalam blognya dan memperoleh tanggapan yang sangat positif.

“Pengunjung blog saya pada saat itu meningkat sangat tajam, blog saya dikunjungi oleh kurang lebih 4000 pengunjung,” pungkas Radtya Dika./cr1/itz

Artikel 5.

Masa Transisi UU BHP Berbeda

Kamis, 15 Januari 2009 | 01:03 WIB

Jakarta, Kompas - Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan atau UU BHP akan segera berlaku setelah ditandatangani presiden sehingga penyelenggara dan satuan pendidikan diharapkan segera menyiapkan diri. Undang-undang itu mengamanatkan masa transisi bagi penyelenggara pendidikan dan satuan pendidikan berbeda-beda.

Perguruan tinggi berstatus Badan Hukum Milik Negara (BHMN) sejauh ini dipandang yang paling siap untuk segera beradaptasi menjadi Badan Hukum Pendidikan (BHP). Perguruan tinggi negeri berstatus BHMN diberikan waktu transisi untuk tata kelola tiga tahun dan pendanaan empat tahun.

Adapun perguruan tinggi negeri non-BHMN diberikan waktu transisi empat tahun. Perguruan tinggi swasta (PTS) yang sudah ada diberikan waktu enam tahun. Adapun sekolah atau madrasah swasta yang sudah ada diberi waktu enam tahun juga.

Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo dalam pertemuan dengan wartawan, Rabu (14/1), mengungkapkan, pada Januari ini UU BHP tersebut kemungkinan sudah akan ditandatangani presiden dan masuk lembar negara sehingga mulai berlaku.

Masa transisi paling cepat diharapkan di level perguruan tinggi. Sementara itu, Bambang mengatakan, pihaknya tidak terlalu mengkhawatirkan transisi di jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Delapan standar

Seperti tertuang dalam UU BHP, di level pendidikan dasar, untuk sekolah negeri hanya sekolah yang telah memenuhi delapan standar nasional pendidikan dan berakreditasi A yang berubah menjadi BHP Pemerintah Daerah. Demikian juga madrasah negeri. Hanya saja lembaga itu berubah menjadi BHP Pemerintah Pusat karena tidak ada otonomi di bidang agama. Untuk sekolah dan madrasah swasta, perubahan menjadi BHP penyelenggara dengan ketentuan berbeda.

Bambang mengatakan, sejauh ini telah banyak sekolah berakreditasi A, tetapi belum ada sekolah yang telah memenuhi delapan standar nasional pendidikan. ”Masih dibutuhkan waktu cukup lama untuk itu,” ujarnya.

Mengenai elemen masyarakat yang tetap menolak UU BHP, Bambang berpendapat, cara paling elegan ialah melalui uji materi. Undang-undang tersebut telah disetujui DPR dan Menteri Pendidikan Nasional sehingga Presiden tidak dapat menarik kembali UU tersebut.

Dia mengatakan, undang-undang tersebut memberikan otonomi lebih optimal kepada satuan pendidikan daripada manajemen berbasis sekolah dan otonomi perguruan tinggi.

Secara terpisah, Yanti Sriyulianti, Koordinator Education Forum, mengatakan, UU BHP yang akan diterbitkan pemerintah dalam waktu dekat merupakan salah satu masalah dalam dunia pendidikan kita. Dalam paragraf ke-4 Pembukaan UUD 1945 sangat jelas dinyatakan bahwa negara melalui pemerintah wajib memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

”Makna dari kalimat ini bukan sekadar hiasan, tetapi merupakan keinginan kuat para pendiri negara bahwa rakyat Indonesia harus dilayani dan pemerintahlah yang wajib memikirkan seluruh masalah pendidikan, termasuk pembiayaannya,” kata Yanti.

Gatot, Koordinator Tim Advokasi Masyarakat untuk Pendidikan Gratis, mengatakan membebaskan biaya pendidikan sebagaimana amanat dalam konstitusi Negara Republik Indonesia mulai tingkat pendidikan usia dini hingga pendidikan tinggi. Selain itu, pemerintah juga harus menghentikan penyelenggaraan pendidikan yang mendasarkan pada kemampuan ekonomi masyarakat. (INE/ELN)

Rabu, 18 Maret 2009

pendidikan menengah

Artikel 1.

Workshop Pengembangan Jaringan Kerja
Pembinaan Olimpiade dan Lomba-Lomba Keilmuan

14 November 2008

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas pada bulan November, tepatnya 9 – 12 November 2008 mengadakan Workshop Pengembangan Jaringan Kerja Pembinaan Olimpiade dan Lomba-Lomba Keilmuan di Hotel Saphir, Yogyakarta. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini diikuti oleh peserta yang berasal dari unsur Perguruan Tinggi dan Dinas Pendidikan Provinsi dari seluruh Indonesia. Dalam kegiatan ini dibahas mengenai mekanisme dan pedoman pengembangan jaringan kerjasama dalam rangka meningkatkan pembinaan olimpiade sains serta lomba-lomba di bidang keilmuan.

Workshop Pengembangan Jaringan Kerja Pembinaan Olimpiade dan Lomba-Lomba Keilmuan bertujuan untuk menciptakan Forum Jaringan Kerja Pengembangan Pembinaan Olimpiade dan Lomba-Lomba Keilmuan (FJKPOLK) dalam penyebarluasan informasi mengenai olimpiade sains – matematika dan lomba-lomba keilmuan lainnya seperti LPIR, Debat Bahasa Inggris, FLS2N, O2SN. Forum jaringan kerjasama antara sekolah, dinas pendidikan, dan perguruan tinggi ini akan beranggotakan tim pembina bidang ilmu yang diperlombakan bekerja sama dengan Direktorat Pembinaan SMA, Perguruan Tinggi, Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota, MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran), dan MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah).

Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Atas, Dr. Sungkowo M dalam sambutan pembukaannya di Hotel Saphir menyampaikan, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas memfokuskan pendidikan pada peningkatan dan pemerataan mutu. Dalam renstra pendidikan, diatur rasio siswa SMA 30 % dan SMK 70% pada tahun 2015 nanti. Sedangkan target renstra pada tahun 2014 yang harus dicapai yakni, 75 % lulusan SMA harus bisa masuk ke perguruan tinggi melalui cara-cara antara lain penjaminan mutu dari lembaga-lembaga seperti LPMP dan perguruan tinggi. Ada dua hal yang menjadi sumber peningkatan mutu pendidikan khususnya SMA, yaitu peningkatan mutu fisik dan kualitas. Kondisi fasilitas dan sumber daya manusia dalam pendidikan harus seimbang.

Dr. Sungkowo mengharapkan, melalui forum ini agar seluruh stakeholder pendidikan yang terlibat memiliki wawasan dan persepsi yang sama untuk dapat bekerja sama dalam mengembangkan kegiatan-kegiatan olimpiade sains – matematika dan lomba-lomba keilmuan lainnya di seluruh Indonesia yang dimulai dari tingkat sekolah, kabupaten, provinsi, nasional sampai ke tingkat internasional. “Dalam memberikan pembinaan olimpiade, tidak semua anak langsung kita bina, mungkin dilakukan dulu tes bakat skolastik atau tes IQ untuk mencari anak-anak yang memiliki IQ tinggi. Baru kemudian dibuktikan dengan tes skolastiknya atau melalui semacam pembinaan khusus di sekolah. Setelah bisa tersaring sampai dengan tingkat kabupaten, baru kemudian kita treatment menuju ke tingkat nasional,” jelas Dr. Sungkowo.

Menurut Dr. Sungkowo, tiga hal yang diinginkan dari kegiatan ini yakni terstrukturnya pembinaan di daerah melalui kemitraan terhadap sekolah dengan perguruan tinggi, memeratakan mutu-mutu ilmu dasar, dan pemerataan mutu SMA secara keseluruhan ini. “Agar seluruh stakeholder pendidikan dapat berperan dan melaksanakan tugas dengan baik sesuai fungsinya seperti apa yang kita cita-citakan, sehingga ke depan akan terbentuk sebuah strategi dan metode yang disusun secara bersama demi kemajuan anak didik kita. Tentunya akan terjalin hubungan yang harmonis antara dinas pendidikan provinsi dan perguruan tinggi di tiap daerah,” pesan Dr.Sungkowo.

Drs. Muchlis Catio selaku Kasubdit Kesiswaan mengatakan, program-program kesiswaan harusnya sudah dimasukkan dalam APBD sesuai dengan otomoni dan kewenangan dari masing-masing daerah. Ada beberapa provinsi yang sudah menyiapkan pembinaan siswa-siswanya oleh perguruan tinggi yang ada di provinsi. Semoga semua provinsi bisa melakukan hal-hal yang serupa, apalagi di tiap-tiap provinsi sudah adanya dana anggaran pendidikan 20% baik itu dari APBD ataupun ABPN.

Muchlis mengharapkan, kerja sama ini dapat membantu dinas provinsi dalam mempersiapkan siswa-siswanya mengikuti olimpiade sains dan lomba-lomba keilmuan lainnya. Dinas pendidikan mempunyai kewajiban penuh terhadap upaya peningkatan mutu pendidikan di daerahnya. Siswa berprestasi menjadi suatu indikator bahwa suatu provinsi itu memiliki mutu yang baik. Kerjasama secara bersinergi dan tepadu wajib dilakukan dalam situasi otonomi daerah sekarang ini.

Pembinaan Olimpiade Provinsi Unggul
Dalam acara sharing pengalaman pembinaan OSN, provinsi-provinsi unggul dalam perolehan medali seperti Daerah Istimewa Yogyakarta, Bali dan Jawa Tengah berbagi pengalamannya kepada peserta workshop dari daerah lain dalam usaha mempersiapkan siswa-siswanya mengikuti olimpiade sains dan lomba-lomba di bidang keilmuan lainnya. Kabid Dikmen Dinas Pendidikan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, M. Sudaryanta mengatakan, kerjasama jaringan antara Dinas Pendidikan dan Perguruan Tinggi di provinsi DIY sudah berjalan cukup lama dan harmonis. Dinas Pendidikan selalu bekerja sama dengan Perguruan Tinggi yang ada di Yogyakarta seperti UGM, UNY, UII. Keharmonisasian itu dapat berjalan lancar tentunya ditunjang dengan sarana prasarana yang memadai. Pelaksanaan olimpiade di DIY sebagian pendukung dana hampir 80% berasal dari APBD provinsi dan 20% dari APBN.

Melalui sharing anggaran ini, menurut M. Sudaryanta, mencerminkan sifat yang terbuka dan saling percaya dalam menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi yang membimbing siswa. Selain itu, provinsi DIY juga memberikan penghargaan bagi pemenang di bidang lomba apa pun dan di semua jenjang. Penghargaan ini langsung diberikan oleh gubernur di akhir tahun. Selain menerima penghargaan, siswa peraih medali olimpiade juga dapat melanjutkan studi di UGM tanpa tes, diberikan prioritas dan beasiswa terutama bagi yang jurusannya sama dengan bidang olimpiade yang diikuti. “Jika prestasi S1 baik, maka siswa tersebut akan dibiayai lagi sampai dengan S2 hingga S3. Melalui mekanisme seperti ini, Alhamdulilah minat dan prestasi siswa-siswi yang mengikuti olimpiade terus meningkat setiap tahunnya,” ujar Sudaryanta.

Sementara itu, peningkatan mutu pendidikan melalui lomba-lomba olimpiade dan keilmuan di provinsi Bali, mengacu pada keadaan dan kondisi provinsi Bali yang terdiri dari delapan kabupaten,dan satu kota. Ini sangat berpengaruh pada penjaringan dan identifikasi terhadap penelusuran bakat dan minat siswa. Provinsi Bali menganut paradigma dan pola pikir pembinaan bahwa input dan proses yang berkualitas akan menghasilkan output yang berkualitas pula. Input yang dimaksud adalah dengan mengidentifikasi dan meneliti siswa yang memiliki potensi dan kecerdasan melalui tes akademik atau tes bakat dan minat siswa untuk kemudian dikelompokkan sesuai dengan bakat dan minatnya. Siswa kemudian dibina oleh guru mata pelajaran bekerja sama dengan perguruan tinggi. “Sekolah yang didukung dengan dana besar oleh komite, akan mencari pembina sampai keluar Bali. Seluruh instrument input seperti silabus, fasilitas, pembina, biaya, sepenuhnya ditanggung oleh sekolah. Hal ini sudah dibuktikan oleh beberapa sekolah di provinsi Bali, sehingga dari tahun ke tahun selalu sekolah-sekolah yang seperti inilah memperoleh prestasi mulai dari kabupaten sampai ke tingkat internasional. Oleh karena itu dalam pelaksanaan olimpiade dan lomba keilmuan lainnya, inilah yang kami pergunakan sebagai patokan.” Jelas Drs. I G N Widiartha M.Sc, selaku Kabid Dikmen Dinas Pendidikan Provinsi Bali.

“Kami membina anak-anak sebanyak 30 orang per bidang lomba untuk kemudian dilatih di sekolah yang kuat dalam bidangnya. Seperti di SMAN 4 Denpasar, SMAN 1 Denpasar dan seterusnya. Siswa kemudian mengikuti seleksi di tingkat kabupaten dan provinsi. Sebelum seleksi di tingkat provinsi dilakukan pembinaan yang melibatkan perguruan tinggi seperti dari F-MIPA Universitas Udaya, Bali.” Tambah Widiartha.

Tak berbeda jauh dengan provinsi lainnya, Jawa Tengah yang sudah empat kali menjadi juara umum dalam OSN, melakukan mekanisme pembinaan dan seleksi yang sudah ditentukan oleh pusat, mulai dari tingkat kabupaten/kota sampai provinsi. Seleksi di tingkat provinsi melibatkan perguruan tinggi dari UNDIP dan beberapa universitas swasta lainnya. Pola pembinaan yang dilakukan hampir merata di tiap wilayah. Kasi Sarana Prasarana Pendidikan Menengah Provinsi Jawa Tengah, Drs. Teguh Winarno mengatakan, peraih medali dalam OSN dari provinsi Jawa Tengah tersebar di 35 kabupaten kota. Ini artinya dalam konteks makro, mampu memberikan penyebaran yang cukup merata. Siswa-siswa hasil seleksi di tingkat kabupaten kemudian berkumpul di provinsi untuk mengikuti tes IQ bekerja sama dengan lembaga professional. Selanjutnya dipilih siswa yang memiliki IQ di atas 130 untuk disiapkan berjuang dalam olimpiade di tingkat nasional

Reward dan penghargaan yang diberikan kepada siswa-siswa berprestasi dapat memotivasi siswa dan sekolah lain dalam meningkatkan prestasi. Hal inilah yang dilakukan provinsi Jawa Tengah. Setiap akhir tahun para juara-juara olimpiade dan juara bidang lainnya selalu dipertemukan dengan gubernur dalam ceremonial khusus. Siswa diberikan beasiswa langsung oleh gubernur dan hadiah-hadiah lainnya.

Demi pemerataan pendidikan di seluruh nusantara, baik DIY, Bali, maupun Jateng mengharapkan agar jaringan ini dapat terus berjalan sebagai bentuk indikator kerjasama antara perguruan tinggi dengan dinas provinsi. Tentunya forum ini tidak hanya tertuju pada olimpiade sains saja, dan tetapi juga meningkat pada program-program yang lain.

Pembinaan Olimpiade Untuk Hasil Terbaik
Pembina TOFI (Tim Olimpiade Fisika Indonesia) Dr. Kamsul Abraha dalam materinya tentang pedoman pengembangan jaringan kerja pembinaan olimpiade mengatakan, rata-rata siswa yang lolos sampai ke tahap pembinaan nasional berasal dari sekolah-sekolah swasta atau sekolah-sekolah yang sudah memiliki tradisi pembinaan olimpiade yang matang. “Andaikan setiap daerah seperti ini, maka persaingan pun akan semakin lebih kompetitif, sehingga nantinya wakil Indonesia ke ajang internasional adalah yang terbaik,” ujar Kamsul.

Menurut Kamsul permasalahannya adalah, banyak daerah-daerah yang belum mempercayai perguruan tinggi setempat. Beberapa provinsi bahkan lebih mempercayai perguruan tinggi – perguruan tinggi favorit saja. Hal ini disebabkan karena perguruan tinggi setempat kurang bertanggungjawab jika diberikan tugas dalam pembinaan olimpiade, dibandingkan perguruan tinggi yang difavoritkan. Selain itu, beberapa perguruan tinggi di daerah tidak sepenuhnya menguasai materi olimpiade yang diberikan pada siswa.

Untuk itu, Kata Kamsul, salah satu tujuan dari jaringan ini adalah meningkatkan kapasitas perguruan tinggi daerah paling tidak mendekati apa yang sebenarnya diinginkan dalam metode pembinaan olimpiade sains itu sendiri. Dalam setiap pembinaan olimpiade, ada dua hal yang harus diperhatikan oleh Pembina, yaitu kompetisi murni dan strategi secara mental. “Anak-anak itu sebetulnya perlu semangat, dorongan, dan arahan agar mereka tau bahwa olimpiade yang dibutuhkan hanyalah terus belajar, belajar, dan belajar. Kita terus memberikan pembinaan yang maksimal, dengan tetap menyeimbangi batas kemampuan mereka. Selain itu, pembina harus memiliki sikap sebagai teman bagi anak-anak. Jangan memiliki sikap seolah-olah ingin mengajarkan mereka. Jadikan mereka bersikap kritis dan rajin bertanya, karena yang kita perlukan mereka tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga cerdas secara emosional.” Papar Dosen Fisika UGM itu.

Pembina Tim Biologi dari Institut Teknologi Bandung, Dr. Agus Dana Permana menambahkan, program pembinaan haruslah bertahap dan berkesinambungan, sehingga dengan adanya kegiatan ini akan ada suatu keinginan untuk menyamakan persepsi dalam membuat tahap-tahap yang jelas dan tertangani dengan baik sejak seleksi sekolah sampai ke tahap internasional. Sebagai forum jaringan kerja, nantinya akan dirincikan rumusan atau bentuk partisipasi aktif dari berbagai macam tingkatan, mulai dari kabupaten sampai internasional. Jaringan kerja ini dapat dijadikan suatu alat dalam rangka memberikan pembekalan kepada para siswa dan guru. Bukan hanya sekedar dalam rangka olimpiade, tetapi juga dalam rangka meningkatkan pengetahuan kapasitas wawasan mereka dalam hal bidang studi yang mereka bertanggungjawab di dalamnya. (rinda)

Artikel 2.

Profil Pemuda Berprestasi 2008

02 November 2008

Adam Badra Cahaya
Prestasi Untuk Bangsa

Perolehan dua medali emas sepanjang tahun 2008 yang diraihnya dari Asian Physics Olimpiad (APhO) ke-9 di Ulaanbaatar dan International Physics Olympiad (IPhO) di Hanoi, Vietnam, tidak membuatnya puas begitu saja. Anas masih ingin terus menyumbangkan baktinya bagi negara dan bangsa yang dicintainya. "Saya jadi ingat kalimat Presiden John F Kennedy, berikan apa yang ada padamu untuk bangsamu, bukan bangsamu yang memberikan buatmu. Ini mungkin yang harus direnungkan oleh pemuda Indonesia saat ini," kata Siswa SMAN 1 Jember ini yang ingin melanjutkan studinya di Nanyang University Singapura. Putra pasangan Parwoto dan Sulistiyani ini mengaku suka fisika sejak duduk di kelas II SMA. Alasannya, karena fisika lebih menantang.

Andreas Dwi Maryanto Gunawan
Target Perunggu, Dapat Perak

Siswa SMAK Kolese Santo Yusup Malang ini, berhasil merebut medali perak dalam International Mathematica Olympiad (IMO) 2008 yang diselenggarakan di negara Matador, Spanyol. “Sebenarnya saya hanya target HM atau perunggu saja. Tapi ternyata bisa dapat perak,” ungkap Andreas bangga. Awal kegilaan Andreas pada matematika dipengaruhi aktivitasnya sehari-hari yang selalu meluangkan waktu untuk mengutak-utik materi soal matematika. Kesukaannya adalah bermain-main dengan rumus. Saking cintanya pada matematika, Andreas selalu langganan mendapat nilai 10 sejak SD hingga duduk di bangku SMA.

Kelvin Anggara
Sang Pemecah Telur

Kelvin dinobatkan sebagai ‘pemecah telur’ dalam olimpiade bidang kimia. Siswa asal SMAS Sutomo 1 Medan ini adalah siswa pertama yang berhasil meraih emas dalam ajang International Chemistry Olympiad (IChO) 2008 di Budapest, Hungaria, selama 11 tahun keikutsertaan Indonesia dalam IChO. “Wah, rasanya senang banget bisa mengharumkan Indonesia di level Internasional, apalagi ini emas pertama.” Ujar Kevin. Kelvin yang kini tengah menyelesaikan studinya di NUS (Nanyang University of Singapura), sangat bercita-cita menjadi scientist dan peraih Nobel Kimia.

Irvan Jahja
Jagoan Informatika

Peraih medali emas dalam ajang Asian Pasific Informatisc Olympiad (APIO) dan International Olympiad in Informarics (IOI) 2008 ini memang jagonya di bidang informatika. Kegemarann belajar programming sudah dilakoninya sejak duduk di bangku SMP. Maka tak heran, jika Siswa SMAS St. Aloysius Bandung ini bisa mencapai prestasi itu. Rajin berlatih soal dan banyak membaca buku menjadi kunci utama kesuksesannya.

Lorenz Da Silva
Emas Istimewa

Pemilik nama lengkap Lorenz Van Gugelberg Da Silva kembali meraih emas dalam kompetisi IOAA (International Olympiad on Astronomy and Astrophysics) 2008 di Bandung, Indonesia. Medali yang sama juga diraih Lorenz pada IOAA 2007 di Chiang Mai, Thailand . "Ini adalah emas istimewa buat saya, karena kesempatan terakhir bisa berkompetisi dalam olimpiade sains," kata lulusan SMAS Semestas Semarang itu. Pemuda asal NTT kelahiran Sukoharjo ini, tengah konsentrasi menyelesaikan kuliahnya di Jurusan Elektro, Institut Teknologi Bandung (ITB). "Meski masuk jurusan elektro, tapi saya tetap akan menekuni astronomi, karena salah satu ilmu yang saya senangi," kata Lorenz lagi.

Anugerah Erlaut
Target Emas

Siswa SMAS Kharisma Bangsa Tangerang ini berhasil meraih perak dalam International Biology Olympiad (IBO) ke-19 yang berlangsung di Mumbai, India. Cowok kelahiran 6 September 1991 ini mengaku belum puas dengan medali yang diperolehnya, karena itu pada IBO 2009 nanti Ia memasang target untuk dapat emas. Agi, begitu Ia akrab disapa dengan teman-temannya, kini tengah mempersiapkan diri dengan mengikuti proses pembinaan IBO 2009 yang diadakan di Kota Bandung, Jawa Barat. (rinda)

Artikel 3.

Sosialisasi Pembinaan Kesiswaan 2008
Pengembangan Potensi Siswa Melalui Pembinaan Kesiswaan

03 November 2008

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas, Sub Direktorat Kegiatan Kesiswaan mengadakan Sosialisasi Pembinaan Kesiswaan di 33 Provinsi Indonesia, salah satunya di Provinsi Jawa Barat. Kamis (30/10), kegiatan Sosialisasi Pembinaan Kesiswaan dipusatkan di Kota Kembang, Bandung. Tepatnya di Aula Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. Dalam kegiatan ini, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat mengundang 80 pengurus OSIS dan guru pembina yang berasal dari beberapa kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat. Antara lain Tasikmalaya, Cirebon, Sumedang, Ciamis, Cianjur, Banjarsari, Cimahi dan lain-lain.

Acara diawali dengan informasi Lomba Penelitian Ilmiah Remaja (LPIR) oleh Prof. Dr. M. Ansjar, Guru Besar Luar Biasa Departemen Matematika, Institut Teknologi Bandung (ITB). Para peserta tampak serius mengikuti ulasan yang diberikan Prof. Dr. M. Ansjar mengenai LPIR. Beberapa diantaranya juga banyak yang melontarkan pertanyaan seputar kiat-kiat agar siswa termotivasi untuk melakukan penelitian ilmiah, dan sebagainya. Selain diskusi dan tanya jawab mengenai topik yang dibahas, juga diadakan session games untuk menguji kecerdasan dan ketangkasan siswa.

Drs. Eddy Purwanto selaku Koordinator dan nara sumber dari Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas memaparkan bahwa Kegiatan Sosialisasi Pembinaan Kesiswaan ini dilakukan dalam rangka menyebarkan informasi tentang kegiatan-kegiatan kesiswaan yang telah dilaksanakan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas, serta rencana kegiatan kesiswaan tahun 2009. Kegiatan-kegiatan tersebut antara lain LPIR (Lomba Penelitian Ilmiah Remaja), OSN (Olimpiade Sains Nasional), FLS2N (Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional), O2SN (Olimpiade Olahraga Siswa Nasional), Debat Bahasa Inggris, SYC (Sunburst Youth Camp) dan ASE (ASEAN Student Exchange). Melalui kegiatan ini, diharapkan siswa dapat mengikuti berbagai kompetisi yang diadakan sesuai dengan bakat dan minatnya masing-masing, dan tentunya dapat mengukir prestasi baik di tingkat nasional maupun internasional.

Lebih lanjut Eddy mengatakan, tujuan pembinaan kesiswaan ini adalah untuk mengembangkan potensi siswa secara optimal dan terpadu yang meliputi bakat, minat, dan kreatifitas. Melalui pembinaan kesiswaan juga diharapkan siswa dapat memantapkan kepribadiannya untuk mewujudkan ketahanan sekolah sebagai lingkungan pendidikan (Wawasan Wiyatamandala), sehingga siswa dapat terhindar dari pengaruh negatif yang bertentangan dengan tujuan pendidikan.

Kegiatan Sosialisasi Pembinaan Kesiswaan ditutup oleh Kasubdin Dikmen Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Drs. H. Syarif Hidayat, M.Pd. Menurutnya, acara seperti ini sangatlah penting. Banyak hal yang dapat disampaikan ke seluruh sekolah, khususnya di Provinsi Jawa Barat mengenai informasi-informasi yang di dapat melalui kegiatan sosialisasi ini. Mudah-mudahan ke depan kegiatan pembinaan kesiswaan dapat ditingkatkan lagi di semua jenjang dan sekolah baik negeri maupun swasta. Tidak hanya terbatas pada sekolah-sekolah yang bisa dijangkau saja melainkan juga hingga ke pelosok-pelosok daerah.

Syarif Hidayat menambahkan, kegiatan-kegiatan kesiswaan sudah berjalan cukup aktif di provinsi Jawa Barat. Mulai dari kabupaten/kota sampai provinsi, sudah melakukan pola-pola pembinaan terstruktur bagi siswa-siswi yang akan mengikuti lomba. Oleh karenanya, pelajar Jawa Barat banyak yang sudah mengukir prestasi dalam ajang olimpiade sains baik di tingkat nasional maupun internasional. Sama halnya pembinaan yang kita lakukan dalam bidang olahraga dan seni. “Untuk persiapan tahun 2009 nanti, kami akan mencoba melakukan seleksi yang lebih baik dan lebih terorganisir mulai dari tingkat sekolah hingga provinsi, khususnya untuk tiga ajang kompetisi ini (OSN, O2SN, FLS2N),” ujarnya.

Para siswa peserta kegiatan sosialisasi pembinaan kesiswaan mengaku banyak memetik manfaat dari kegiatan yang hanya berlangsung satu hari itu. Hal tersebut diungkapkan saat diwawancarai oleh tim potensi. “Banyak informasi yang saya dapat dari acara ini, seperti kegiatan-kegiatan kesiswaan yang sebelumnya tidak saya ketahui. Kegiatan seperti ini harus sering-sering diadakan, karena dapat meningkatkan kreativitas siswa menjadi lebih baik lagi, khususnya bagi pengurus-pengurus OSIS.” Ujar Wedy, siswa SMAN 5 Cirebon.

Menurut Meita, siswi SMAN 1 Sumedang, waktu yang dibutuhkan siswa untuk lebih memahami tentang informasi-informasi pembinaan kesiswaan masih sangat kurang, tidak cukup hanya satu hari. Selain itu menurut Fadhil Irawan, siswa SMAN 1 Sukaresmi Cianjur, informasi yang disampaikan juga harus lebih merata, tidak hanya ke sekolah-sekolah yang mudah di jangkau saja, tetapi juga sampai ke sekolah-sekolah di pelosok Jawa Barat.

“Informasi yang disampaikan haruslah dari nara sumber yang berkompeten di bidangnya. Kalau perlu siswa-siswa yang sudah sukses berprestasi sampai ke tingkat internasional juga dihadirkan untuk sharing dengan kita mengenai kiat-kiat mereka menjadi juara. Ini dapat membangun motivasi siswa agar lebih giat lagi belajar,” tambah Aditya siswa asal SMAN 2 Tasikmalaya.

Kepala Bidang Pendidikan Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan Kota Bandung, Dedy Dharmawan S.Pd pada kesempatan yang sama mengatakan, pembinaan dan pengembangan generasi muda saat ini harus diarahkan untuk mempersiapkan kader penerus perjuangan bangsa dan pembangunan nasional. Pengarahan tersebut dapat dilakukan dengan memberikan bekal keterampilan, kepemimpinan, kesegaran jasmani, daya kreasi, patriotisme, idelaisme, kepribadian dan budi pekerti luhur. Oleh karena itu pembangunan wadah pembinaan generasi muda di lingkungan sekolah yang diterapkan melalui Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) perlu ditata secara terarah dan teratur, agar tidak tercampur dengan kegiatan-kegiatan yang diserap dari dunia luar yang dapat membawa dampak negatif bagi siswa.

Pembinaan kesiswaan terarah adalah pembinaan yang berdasarkan pada nilai-nilai moral dan etika yang dapat melahirkan sikap disiplin dan bertanggungjawab dalam diri siswa, seperti pramuka, palang merah remaja, paskibra, dan sebagainya. Sudah seharusnya pembinaan kesiswaan yang mengarah pada prilaku menyimpang mulai ditelaah kembali keberadaannya, seperti band, cheersleader, dan sejenisnya. “Pernah kejadian di salah satu sekolah di Kota Bandung ini, seorang siswi yang sedang melakukan aksi chears-nya mengalami kecelakaan, dan ini terjadi di depan kepala sekolahnya sendiri. Nah, hal-hal seperti itu kan menjadi naif akhirnya. Untuk itu, saya terus berusaha untuk mentradisi pembinaan kesiswaan yang mengarah pada perwujudan moral dan etika siswa menjadi lebih baik.” Ungkap Dedy.

Prof. Dr. M. Ansjar
“Pentingnya Peranan Guru Dalam Menumbuhkan Minat Meneliti”


Dalam penyajian Lomba Penelitian Ilmiah Remaja LPIR kepada para siswa, Prof. Dr. M. Ansjar menyampaikan bahwa tujuan diadakannya Lomba Penelitian Ilmiah Remaja (LPIR) antara lain adalah untuk menumbuhkan dan memupuk sikap keilmuan di kalangan para remaja, sehingga diharapkan kelak para remaja akan menjadi generasi penerus bangsa yang cerdas baik secara ilmu maupun attitude (sikap). Seseorang yang memiliki sikap keilmuan selalu memberi perhatian, memiliki rasa ingin tahu, selalu bertanya dan mempertanyakan tentang hal-hal yang ingin diketahuinya, serta gigih mencari informasi tentang sesuatu hal. ”Nah, untuk menjadi seperti ini tentunya siswa tidak melakukannya sendiri. Ada guru yang mendampingi dan memotivasi siswa tersebut menjadi siswa yang cerdas secara ilmu maupun sikap,” ujar Prof. Dr. M. Ansjar.

Bantuan guru sangat diharapkan dalam membina dan membimbing siswa melakukan penelitian ilmiah. Usaha guru menumbuhkan minat meneliti dalam diri siswa sangat dibutuhkan untuk membudayakan penelitian di kalangan remaja. Mengajar bukan hanya sekedar memberikan informasi kepada siswa, melainkan membuat dan membantu agar siswa itu mau belajar. Sering-seringlah memberikan apresiasi terhadap siswa. “Kalaupun ada yang salah, jangan langsung dipatahkan. Akui saja yang dilakukannya sudah bagus, hanya saja belum sempurna, dan tugas guru untuk membantu siswa tersebut menuju proses kesempurnaannya. Biarkan siswa berekspresi sesuai kata hatinya dalam melakukan penelitian. Jangan paksakan siswa seperti apa yang kita mau,” ungkap Prof. Dr. M. Ansjar.

Siswa juga dituntut lebih aktif bertanya dan mencari informasi-informasi dari sumber-sumber yang lain. Tidak hanya menunggu perhatian dan motivasi dari guru saja. Dengan adanya lomba LPIR ini, tim juri sangat mengharapkan agar siswa lebih berani dalam mengungkapkan isi penelitiannya secara spontan dengan bahasa yang baik dan susunan yang teratur. Dalam merumuskan dan meluruskan suatu masalah, siswa harus melakukannya dengan cara-cara yang lazim dilakukan dalam ilmu pengetahuan, seperti melalui pengamatan, eksperimen, studi pustaka, dan sebagainya. Ceritakan apa adanya dari apa yang diteliti, tanpa ada yang ditambah-tambah dan dibuat-buat. “Mudah-mudahan di tahun-tahun mendatang akan lebih banyak lagi bibit-bibit muda berbakat yang tertarik menjadi peneliti.” Ujar Prof. M. Ansjar. (rinda)

Sosialisasi Pembinaan Kesiswaan Provinsi Bali
Berjalan Tertib dan Lancar


Bertempat di gedung pertemuan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Bali (30/10) Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional mengadakan sosialisasi program pembinaan kesiswaan 2008. Sosialisasi ini berkaitan erat dengan terbitnya Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 34 Tahun 2006 tentang pembinaan prestasi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan serta bakat istimewa. Tujuan dari sosialisasi ini adalah menjaring data dan masukan mengenai pembinaan kesiswaan pada tingkat Sekolah Menengah Atas. Adapun maksud dari kegiatan adalah menjaring informasi yang diperlukan dari berbagai responden yang terdiri dari guru pembina kesiswaan, dan pengurus OSIS di setiap provinsi.

Kegiatan yang juga mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2008 tentang Pembinaan Kesiswaan dan Program Pembinaan Kesiswaan yang diluncurkan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas ini, terdiri dari dua aspek, yaitu, aspek keterlaksanaan sosialisasi program pembinaan kesiswaan, dan aspek pelaksanaan sosialisasi. Setiap responden yang mengikuti kegiatan ini diberikan kuesionar yang harus diisi secara jujur dan penuh tanggung jawab.

Kuisioner yang diberikan hanya dijawab dengan Ya dan Tidak. Pada kuisioner tersebut pertanyaan diberikan seputar kegiatan kesiswaan yang berkaitan dengan pengembangan potensi siswa, kegiatan kesiswaan, kegiatan ekstrakurikuler dan kokurikuler, keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, budi pekerti luhur atau akhlak mulia, kepribadian unggul, wawasan kebangsaan, dan bela negara, prestasi akademik, seni, olahraga sesuai minat dan bakat, demokrasi, hak asasi manusia, pendidikan politik, lingkungan hidup, kepekaan kreativitas, ketrampilan dan wirausahaan, kualitas jasmani, kesehatan dan gizi berbasis sumber gizi, serta sastra dan budaya.
Presentasi sosialisasi yang berlangsung sejak pukul sembilan pagi hingga dua belas siang ini, disampaikan oleh Suharlan, SH, MM, Kasi Bakat dan Prestasi Direktorat Kesiswaan. Peserta sosialisasi terdiri dari guru, Kepala Sekolah, pejabat Dinas Pendidikan Provinsi Bali, dan siswa-siswi SMA dari kota Denpasar, Bali dan sekitarnya. (fanny)

Artikel 4.

ASEAN Student Exchange Programe 2008
Persatuan dan Kesatuan Antar Negara ASEAN

18 November 2008

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional memberikan wadah bagi siswa-siswi SMA untuk memperkenalkan dan mengharumkan nama bangsa Indonesia dalam berbagai event pendidikan dan kebudayaan di tingkat internasional. Salah satunya melalui kegiatan ASEAN Students Exchange (ASE) yang diselenggarakan di Kuala Lumpur, Malaysia pada tanggal 9 - 16 November 2008.

Sebelum berangkat meninggalkan Indonesia, para peserta telah melakukan berbagai macam kegiatan dalam rangka mempersiapkan diri untuk berpartisipasi dalam program ASE. Antara lain mengikuti proses pembinaan (karantina) dan pamitan dengan Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Atas, Dr. Sungkowo M. Pembinaan dilaksanakan pada tanggal 4 – 9 November oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas, di Wisma Subud, Jalan RS. Fatmawati, Jakarta Selatan. Koordinator Pembinaan ASE 2008 Ni Made Rasmi menuturkan, diadakannya pembinaan ini adalah untuk membekali siswa agar dapat membawa nama baik bangsa dan negara Indonesia melalui sikap dan prilaku yang santun, berakhlak mulia, serta menjunjung tinggi nilai-nilai budaya Indonesia.

Tujuan diadakannya program ASEAN Student Exchange (ASE) adalah untuk membuat pemuda di ASEAN siap menghadapi masa depan serta bertanggungjawab demi persatuan dan kesatuan negara-negara ASEAN. Selain itu, diharapkan pula para pemuda dapat memperkaya pengetahuannya tentang budaya. Diselenggarakannya program ASE oleh Kementrian Pendidikan Malaysia merupakan suatu usaha dari institusi pendidikan di Malaysia guna memperluas jaringan Malaysia dengan negara – negara lain, khususnya di ASEAN.

Minggu (9/11), rombongan ASE Indonesia yang didampingi oleh Drs. Hari Sugiharto berangkat menuju Kuala Lumpur menggunakan pesawat Malaysia Airlines pukul 13.10 WIB. Tim ASE Indonesia terdiri dari Tegar Wicaksono (SMAN 2 Purwokerto), Arlan Hardiyan (SMA Kharisma Bangsa), Abdul Manan Maksum (SMAN 5 Bandung), Yogi Tri Prasetyo (SMAN 1 Gresik), Faiz Allaudien Mardhika (SMAN 1 Kebumen), Anindita Rustandi (SMA Lazuardi Depok), Nofi Nurina Ramadhani (SMAN 1 Sidoarjo), Arliska Fatma Rosi (SMAN 1 Padang), Wahyu Rachmadhani (SMAN 15 Surabaya), Andira Raydhania (SMA Al Azhar BSD Serpong). Setibanya di Malaysia, rombongan langsung menuju penginapan di Pearl International Hotel.

Negara peserta ASE 2008 selain Indonesia yaitu Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, Kamboja, dan Laos. Untuk saling mengakrabkan antar sesama peserta, diadakanlah berbagai macam kegiatan seperti pengenalan dan permainan (games). Dalam acara pembukaan yang dihadiri oleh Menteri Pendidikan Malaysia Dato Sri Hishamudin bin Tun Hussein Onn, Siswa Indonesia asal SMAN 1 Gresik Yogi Tri Prasetyo, mendapat kehormatan untuk menyampaikan sambutan mewakili semua negara.

Peserta ASE 2008 melakukan berbagai macam kegiatan antara lain kunjungan ke tempat-tempat bersejerah di Malaysia seperti Tugu Negara di Taman Tasik Pedana dan Teratak Za’ba di Negeri Sembilan, Kampung Lonek. Tugu Negara merupakan wilayah dimana prajurit Malaysia ditempatkan dalam peperangan selama kemerdekaan. Sedangkan Teratak Za’ba adalah peninggalan bersejarah seseorang yang berkescimpung di dunia pendidikan dan jurnalisme di Malaysia. Tentunya tak ketinggalan, kunjungan ke Petrosains (Twin Tower) yang menjadi icon Negeri Jiran. Selain mengunjungi tempat - tempat bersejarah, peserta juga mengelilingi kawasan bisnis dan perkantoran di beberapa wilayah di Malaysia dengan menyusuri sungai menggunakan kapal kecil. Tak berbeda jauh seperti Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Indonesia, cerita Yogi, di Malaysia Ia dan teman-temannya juga mengunjungi Taman Mini Malaysia dan Negara-negara ASEAN di Malaka. “ Disana kami melihat rumah adat dari 13 negeri di Malaysia,” kata Yogi.

Setelah mengunjungi beberapa tempat sejarah, eserta ASE yang berjumlah 49 orang melanjutkan perjalanan ke Negeri Sembilan, Kampung Lonek untuk melakukan homestay. Di tempat ini peserta tinggal dan menetap bersama keluarga angkat mereka di rumah yang berbeda - beda. Peserta melakukan berbagai macam kegiatan yang sehari-harinya dilakukan oleh keluarga angkat mereka, seperti berkebun, mencari ikan, demo masak menu Melayu, dan memainkan permainan tradisional Malaysia. Dalam acara penutupan yang digelar pada tanggal 15 November, tim Indonesia membawakan tari Sirih Kuning dari Jakarta dan tari Bajidor Kahot dari Jawa Barat. Usai mengikuti serangkaian acara, keesokan harinya tepatnya 16 November 2008, tim Indonesia bertolak dari Malaysia menuju Tanah Air. (rinda)

Artikel 5.

Form Evaluasi Diri
Rintisan SMA Bertaraf Internasional

03 March 2009

Merujuk surat Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Atas nomor 981/C.4/MN/2008 tanggal 9 September 2008 mengenai pengajuan proposal sekolah calon rintisan SMA Bertaraf Internasional, Direktorat Pembinaan SMA akan melaksanakan verifikasi terhadap 146 sekolah calon pelaksana program Rintisan SMA Bertaraf Internasional yang telah lolos seleksi proposal dari 248 proposal yang masuk pada tanggal 5-15 Maret 2009, dengan jadwal sebagai berikut:

1.
Tanggal 5-7 Maret 2009 untuk Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Banten.
2. Tanggal 10-12 Maret 2009 untuk Provinsi Jawa Timur dan Bali.
3.
Tanggal 13-15 Maret 2009 untuk Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku, Nusa Tenggara Barat, Papua, Bengkulu, Gorontalo, dan Kepulauan Riau.

Untuk calon penyelenggara program Rintisan SMA Bertaraf Internasional yang akan diverifikasi terlebih dahulu harus mengisi form Evaluasi Diri yang telah dikirim bersamaan dengan surat pemberitahuan dari Direktorat Pembinaan SMA. Jika sekolah belum menerima surat pemberitahuan tersebut, sekolah dapat mendownload file form Evaluasi Diri pada situs ini.



pendidikan dasar

Pendidikan Dasar dan Dasar Pendidikan

Artikel 1

Pendidikan dasar

Pendidikan dasar adalah jenjang pendidikan awal selama 9 (sembilan) tahun pertama masa sekolah anak-anak yang melandasi jenjang pendidikan menengah. Di akhir masa pendidikan dasar selama 6 (enam) tahun pertama (SD/MI), para siswa harus mengikuti dan lulus dari Ujian Nasional (UN) untuk dapat melanjutkan pendidikannya ke tingkat selanjutnya (SMP/MTs) dengan lama pendidikan 3 (tiga) tahun.


Artikel 2


Pendidikan Dasar dan Dasar Pendidikan

Pendidikan merupakan investasi yang sangat penting dan berharga dalam hidup ini. Itulah sebabnya orang tua kita berani berkorban apa saja demi pendidikan anak-anaknya. Tetapi karena sangat penting itu juga yang mungkin menyebabkan biaya pendidikan di negeri kita teramat tinggi. Karena biaya pendidikan terlalu tinggi menyebabkan banyak anak-anak yang putus sekolah atau bahkan tidak mampu untuk bersekolah. Pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional dan kemudian dibantu oleh Pemerintah Daerah kemudian mencanangkan pendidikan dasar yang harus ditempuh oleh masyarakat mulai dari pendidikan dasar enam tahun, sembilan tahun dan entah berapa tahun lagi akan dicanangkan untuk pendidikan dasar.

Pendidikan dasar terdiri dari dua kata yaitu “pendidikan” dan “dasar”. Diketahui sangat banyak definisi pendidikan. Menurut pengertian Yunani pendidikan adalalah “Pedagogik” yaitu ilmu menuntun anak. Bangsa Romawi melihat pendidikan sebagai educare, yaitu mengeluarkan dan menuntun, tindakan merealisasikan potensi anak yang dibawa waktu dilahirkan di dunia. Bangsa Jerman melihat pendidikan sebagai Erziehung yang setara dengan educare, yaitu : membangkitkan kekuatan terpendam atau mengaktifkan kekuatan/potensi anak. Dalam bahasa Jawa, pendidikan berarti panggulawentah (pengolahan), mengolah, mengubah kejiwaan, mematangkan perasaan, pikiran, kemauan dan watak, mengubah kepribadian sang anak.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan berasal dari kata dasar didik (mendidik), yaitu : memelihara dan memberi latihan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sedangkan pendidikan mempunyai pengertian : proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perbuatan, cara mendidik. Ki Hajar Dewantara mengartikan pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya.

Pendidikan Dasar berarti proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan serta proses perbuatan pada level dasar. Pendidikan dasar dibuat sebagai pondasi untuk melangkah ke Pendidikan Menengah dan kemudian ke Pendidikan Tinggi. Namun dalam kenyataanya apa yang dirumuskan tidak segaris lurus dengan definisi-definisi di atas. Sangat banyak anak yang sudah memiliki pendidikan dasar tetapi b punya kemampuan untuk melakukan pengubahan sikap dan tata laku.

Apa yang tergambar saat ini, menyelesaikan pendidikan adalah keluar dari bangku sekolah dengan mendapatkan surat tanda tamat belajar ataupun bukti kelulusan. Yang menjadi pertanyaan adalah apa yang menjadi batas dari pendidikan dasar ini ? Apakah Sekolah Dasar atau Sekolah Menengah Pertama atau yang lainnya. Apabila ditentukan dengan jenjang sekolah, batas ini akan sangat dinamik, karena faktanya pendidikan juga identik dengan lapangan pekerjaan.

Rumusan yang semestinya dibahas adalah bagaimana meletakkan ”dasar pendidikan” karena dasar pendidikan lain dengan pendidikan dasar. Dasar pendidikan adalah meletakkan pondasi yang kokoh bagi setiap masyarakat untuk dapat melakukan perubahan sikap dan tata laku dengan cara berlatih dan belajar dan tidak terbatas pada lingkungan sekolah, sehingga meskipun sudah selesai sekolah akan tetap belajar apa-apa yang tidak ditemui di sekolah. Hal ini lebih penting dikedepankan supaya tidak menjadi masyarakat berpendidikan yang tidak punya dasar pendidikan sehingga tidak mencapai kesempurnaan hidup. Apabila kesempurnaan hidup tidak tercapai berarti pendidikan belum membuahkan hasil yang menggembirakan.

Artikel 3


Pendidikan Dasar Gratis Sudah Saatnya Diberlakukan

Sudah lebih dari dua puluh tahun, tepatnya sejak tahun 1984, pemerintah mendengungkan kampanye wajib belajar. Melihat pengalaman negara industri baru (new emerging industrialized countries) di Asia Timur, disadari pembangunan suatu bangsa memerlukan sumber daya manusia dalam jumlah dan mutu yang memadai untuk mendukung pembangunan.

Terlebih lagi, pembangunan masyarakat demokratis mensyaratkan manusia Indonesia yang cerdas. Selain itu, era global abad ke-21, yang antara lain ditandai oleh lahirnya knowledge base society atau masyarakat berbasis pengetahuan, menuntut penguasaan terhadap ilmu pengetahuan. Hanya saja, meskipun sudah jauh-jauh hari mengampanyekan wajib belajar-mulai dari wajib belajar enam tahun hingga sembilan tahun-masih belum jelas apakah Indonesia melaksanakan wajib belajar (compulsory education) atau universal education yang berarti pendidikan dapat dinikmati oleh semua anak di semua tempat.

Dua konsep tersebut berbeda dan hal ini jelas tertuang dalam keputusan internasional, yakni Declaration on Education for All di Jomtien, Thailand, tahun 1990, yang menegaskan compulsory education bukan universal education. Wajib belajar terutama berimplikasi terhadap pembebasan biaya pendidikan sebagai bentuk tanggung jawab negara. Di berbagai negara yang mewajibkan warganya menempuh pendidikan dasar sembilan tahun, semua rintangan yang menghalangi anak menempuh pendidikan bermutu dihilangkan. Termasuk dalam hal pendanaan pendidikan.

Di China pemerintah menggratiskan pendidikan dasar dan memberikan subsidi bagi siswa yang keluarganya mempunyai masalah ekonomi. Pengalaman negara lain pun hampir serupa. Di India wajib belajar berimplikasi juga pada pembebasan biaya pendidikan dasar. Bahkan, di negara yang baru keluar dari konflik dan kemiskinan masih mencengkeram seperti Kamboja, pendidikan dasar digratiskan dan disertai dengan upaya peningkatan mutu, khususnya dari segi tenaga pendidik.

Selain itu, dibutuhkan kekuatan hukum mengikat untuk mengimplementasikan wajib belajar. China, misalnya, membagi hukum wajib belajar sembilan tahun menjadi tiga kategori: perkotaan dan daerah maju, pedesaan, dan daerah miskin perkotaan. Target pencapaiannya berbeda-beda. Sebagai bentuk komitmen terhadap wajib belajar dikeluarkan pula pernyataan pada Januari 1986, yang menyatakan ilegal mempekerjakan anak sebelum selesai wajib belajar sembilan tahun.

Negara super power seperti Amerika Serikat dalam masa perang dingin, sekitar tahun 1981, sempat khawatir dengan ketertinggalan pendidikannya sehingga muncullah laporan A Nation at Risk. Laporan tersebut mengatakan bahwa yang menyebabkan ketertinggalan Amerika dalam persaingan global antara lain karena buruknya pendidikan. Dua puluh tahun kemudian, tepatnya tahun 2003, pandangan yang muncul pada tahun 1983 itu perlu dievaluasi. Apakah benar bahwa saat itu AS dalam bahaya dan berisiko? Dengan kemenangan AS dalam perang dingin memang tidak semua laporan itu benar.

Namun, pandangan tersebut juga menyajikan kenyataan pahit, yakni dengan status sebagai negara adidaya ternyata masih banyak anak di AS yang drop out dari sekolah. AS kemudian menganggap perlu peraturan dalam melaksanakan wajib belajar sehingga lahir undang-undang yang terkenal dengan sebutan "No Child Left Behind". Dengan undang-undang ini, berbagai jenis pendidikan, mulai dari sekolah yang diadakan oleh keluarga di rumah hingga etnis minoritas, ditanggung negara.

MENGAPA pendidikan dasar gratis? Bagi Indonesia jaminan akses terhadap pendidikan dasar sesungguhnya sudah menjadi komitmen antara pemerintah dan masyarakat, seperti yang tertuang dalam UUD 1945 bahwa tujuan negara ialah mencerdaskan kehidupan bangsa. Pentingnya keadilan dalam mengakses pendidikan bermutu diperjelas dan diperinci kembali dalam Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Bagi negara maju pendidikan gratis-selain karena tuntutan konstitusi mereka-juga didukung perekonomian negara yang sudah cukup mapan untuk investasi pendidikan. Anggaran pendidikan setidaknya telah mencapai 5-8 persen produk domestik bruto. Sementara di Indonesia investasi pendidikan masih sangat kecil, sekitar 1,3 persen dari produk domestik bruto. Jatah bagi investasi pendidikan semakin kecil lagi lantaran produk domestik bruto sendiri sudah kecil. Padahal, untuk mewujudkan pendidikan dasar gratis ini memang perlu servis dari pemerintah.

Pemikiran lain, dalam hubungan antara masyarakat dan negara sudah jelas ada hubungan timbal balik. Masyarakat punya tanggung jawab terhadap negara dan negara punya tanggung jawab terhadap masyarakat. Hanya saja, dalam beberapa hal hubungan ini dinilai timpang. Masyarakat dipaksa menjalankan kewajibannya, antara lain, membayar pajak, di sisi lain negara belum sepenuhnya menjalankan kewajibannya, termasuk dalam pendidikan.

Di sisi lain pemerintah dihadapkan dengan pilihan yang sulit. Apakah akan mementingkan distribusi pendapatan atau menekankan kepada investasi sosial, seperti pendidikan dan kesehatan? Jika pilihan jatuh kepada distribusi pendapatan, konsekuensinya adalah investasi sosial akan berkurang. Dalam "ketegangan" tersebut, persoalan sosial lalu cenderung diserahkan kepada masyarakat, seperti yang terjadi selama ini di Indonesia. Tak jarang keluar ungkapan dari pemerintah bahwa masyarakat harus diberdayakan, termasuk membayar sendiri pendidikannya.

Di sinilah sebenarnya muncul apa yang disebut dengan neoliberalisme dalam wajah pendidikan. "Untuk kasus Indonesia, sebenarnya ketegangan antara dua pandangan itu dapat disinergikan. Kita harus pintar- pintar memilih, distribusi pendapatan atau investasi. Sebagai contoh, jika menganut distribusi pendapatan dalam investasi, kompensasi kenaikan harga bahan bakar minyak itu dikembalikan melalui berbagai program bantuan kepada rakyat. Akan tetapi, jika dalam penyalurannya ternyata korupsinya semakin banyak, lebih baik terang- terangan dimasukkan ke dalam investasi pendidikan," kata HAR Tilaar.

SUMBER pembiayaan pendidikan dasar gratis dapat berasal dari pemerintah dan pemerintah daerah. Jika ada kesepakatan untuk melaksanakan pendidikan dasar gratis, pada dasarnya pemerintah pusat yang harus membiayai. Hal ini karena pemerintah pusat sebagai pemegang dana publik terbesar dan birokrasinya masih sangat kuat.

Adapun pemerintah daerah harus terlibat karena merekalah yang mempunyai dan menguasai data lapangan. Hanya saja, ada kecenderungan pemerintah pusat tidak mau menyerahkan dana operasional untuk menjalankan pendidikan ke pemerintah daerah. Di samping itu, pemerintah daerah juga perlu ikut menyisihkan sebagian dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk wajib belajar.

Peraturan apa saja yang harus dibiayai dalam pendidikan dasar gratis itu harus jelas pula. Pembiayaan pemerintah setidaknya mencakup tiga komponen, yaitu kurikulum, proses, dan fasilitas belajar. Kurikulum yang digunakan harus jelas dan disepakati terlebih dahulu sehingga diketahui materi yang akan diajarkan dan besarnya biaya untuk pendidikan. Dengan demikian, penggunaan dana pendidikan menjadi efisien. Kurikulum yang mencakup puluhan mata pelajaran tentu lebih mahal daripada hanya sepuluh pelajaran. Sayangnya, penggunaan kurikulum, seperti Kurikulum Berbasis Kompetensi masih membingungkan.

Pembiayaan proses belajar sudah termasuk persiapan keterampilan, kompetensi, kesejahteraan guru , serta evaluasi hasil belajar. Peningkatan kualitas dan kesejahteraan guru merupakan kunci dari pelaksanaan wajib belajar yang bermutu. Selama ini kedua hal tersebut kurang diperhatikan dengan berbagai alasan. Biaya fasilitas belajar (opportunity to learn) meliputi antara lain buku pelajaran, perpustakaan, gedung, laboratorium, tenaga kependidikan, dan komputer. Fasilitas belajar ini berbeda-beda kebutuhannya dan tidak harus diseragamkan.

Abdorrakhman Ginting percaya, sebetulnya pendidikan gratis masih mungkin dilaksanakan. Untuk menggantikan Sumbangan Pembiayaan Pendidikan (SPP) bagi 24 juta siswa sekolah dasar dan sekolah menengah pertama dengan bantuan dana Rp 15.0000 per kepala setahun dibutuhkan Rp 4 triliun. Sementara untuk meningkatkan gaji 2,2 juta orang guru sebesar Rp 500.000 per bulan, agar kualitasnya terpacu, diperlukan Rp 1,1 triliun per bulan atau Rp 13,2 triliun setahun. Jadi total untuk menggratiskan biaya SPP dan peningkatan gaji guru yang dibutuhkan setahun Rp 17,4 triliun. Pada prinsipnya pendidikan gratis tidak dapat dikatakan sepenuhnya gratis karena tetap harus ada yang membiayai. Ada biaya terselubung, yang di negara lain seperti di AS sudah tersistem dalam satu kesatuan administrasi negara.

Di AS sekolah publik gratis karena ada pajak sekolah khusus. Warga negara AS yang mempunyai tanah dan rumah harus membayar pajak sekolah di distriknya, terlepas dari warga tersebut mempunyai anak atau tidak. Di Belanda rata-rata pajak penghasilan cukup tinggi, yakni 60 persen. Sementara di negara-negara Skandinavia, pajak penghasilan mencapai 70 persen, tetapi kebutuhan dasar warga negara seperti pendidikan dijamin.

Namun, pelaksanaan pendidikan gratis harus dengan kewaspadaan tingkat tinggi dari berbagai celah penyalahgunaan dan pengawasan. Filipina, misalnya, mempunyai pengalaman buruk dengan penggunaan voucher pendidikan. Warga yang menginginkan pendidikan lebih membayar sendiri sisanya, tetapi sayangnya model tersebut tidak jalan dan rawan korupsi. Oleh karena itu, harus hati- hati dalam menentukan model penggratisan pendidikan. Siapa yang akan ditopang? Apakah lembaga pendidikannya yang rawan kebocoran atau anaknya secara langsung dengan konsekuensi penyalahgunaan dana?

Ada pemikiran, sebaiknya dana diberikan kepada sekolah dengan konsekuensi sekolah tidak dapat lagi memungut iuran dari siswa. Untuk itu, lagi-lagi pengawasan harus diperkuat dan sekolah yang masih membebani siswa harus dikenai sanksi tegas.

Pendidikan gratis bermutu juga perlu disesuaikan dengan kondisi setempat, walaupun tetap berdasarkan kualitas yang standar, sehingga dalam menggratiskan pendidikan dasar bentuk dan nilai subsidi tidak harus seragam. Selain itu, perbedaan antara sekolah swasta, negeri, madrasah, dan pesantren secara psikologis dan politis mesti dapat diatasi.

Selain itu, para pemimpin harus menyadari pendidikan bahwa itu bukan soal ekonomi atau bagi-bagi keuntungan, tetapi soal politis atau ke mana bangsa ini mau dibawa. Akhirnya, memang kembali kepada niat politik pengambil keputusan: apakah pemegang kekuasaan mau semua anak Indonesia maju?

Sumber : kompas.

Artikel 4


Pengembangan SDM Sedini Mungkin di Sekolah Dasar

Umumnya para pendidik telah mengenal bahwa fokus pengajaran murid-murid sekolah dasar adalah agar murid menguasai kemampuan dasar yang tercakup dalam rumus 3-R. yaitu Arismetik, reading dan writing. Atau dengan kata lain penguasaan dalam berhitung, membaca dan menulis.

Bagaimana penguasaan murid-murid atas kemampuan dasar ini, orang melihat sesuai dari kaca mata mereka masing-masing. Tidak sedikit orang, yang mengatakan bahwa kemampuan dasar murid dalam berhitung, membaca dan menulis telah mantap begitu mendengar bahwa di sekolah yang bersangkutan ada segelintir murid yang memperoleh NEM yang cukup baik.

Namun secara umum kalau kita perhatikan sertifikat NEM anak-anak Yang mendaftar ke tingkat SLTP banyak menunjukkan angka kemampuan berhitung, Kita sebut saja nilai matematika yang begitu jelek. Dapat kita perkirakan bahwa kemampuan mereka dalam membaca dan menulis juga jelek.

Untuk mencek kemampuan membaca murid pada tingkat SLTP dan SLTA dapat dicek lewat pemanfaatan buku-buku teks mereka. Ka1au kita mengunjungi perpustakaan sekolah tingkat SLTP dan SLTA maka akan kita jumpai tumpukan buku-buku teks yang lumayan banyaknya tanpa ada disentuh atau dimanfaatkan. Meskipun untuk menyediakannya pemerintah telah menghabiskan milyaran rupiah dari proyek penyediaan buku-buku. Begitu pula dengan buku-buku teks yang ada di dalam tas sekolah mereka, terlihat masih utuh sebagai tanda bahwa belum dimanfaatkan walau tidak semua murid yang bersikap demikian). Ini akibat kebiasaan murid yang. gemar menghafal catatan pelajaran mereka, ketimbang menganalisa buku-buku teks pelajaran mereka.

Pada akhir tahun di kelas tiga, tingkat SLTA, siswa musti menyelesaikan sebuah karya tulis sebagai syarat untuk dapat mengikuti EBTA dan EBTANAS. Tetapi mereka seolah-olah mencerminkan ketidakmampuan dalam menulis karya tulis. Dan memang kenyataannya mereka betul-betul banyak yang tidak mampu dalam menulis karya tulis yang begitu sederhana. Sehingga mereka terpaksa menempuh jalan curang, misalnya, dengan memalsukan karya tulis kakak kelas yang telah lulus pada tahun lain.

Dari sebuah dialog ringan dengan mahasiswa KKN tertangkap kesan tentang melemahnva semangat mahasiswa dalam peningkatan SDM. Pergi kuliah hanya asal-asalan saja. Banyak mereka yang enggan datang ke kampus dan suka menitipkan absen. Hari-hari mereka lewati dengan hura-hura. Kemudian pada musim tentamen mereka suka menggunakan jimat, catatan kecil, ala anak SMU atau mencari sopir ujian. Sebab sang dosen tidak mungkin dapat mengenali semua mahasiswanya karena itulah suatu stereotype, atau pandangan umum, bahwa hubungan dosen dan mahasiswa adalah "siapa lu dan siapa gua". Dengan kata lain hubungan mereka adalah sebatas membayar kewajiban saja, yang penuh dengan ketidakacuhan atau ketidakpedulian.

Banyak tudingan bahwa kebodohan murid di sekolah berawal dari kenakalan karena orang tua mereka ada yang "'broken" atau orang tua tidak peduli dengan pendidikan anak. Itu sangat benar. Tetapi ada pula malah orang tua begitu peduli dengan pendidikan anak, dan lingkungan sosial anak begitu sehat. Malah si anak kok begitu sudi mengungkapkan ingin untuk tarik diri dari dunia sekolah karena tidak dapat mengikuti pelajaran demi pelajaran. Kendala yang dialami oleh anak atau murid seperti ini disebabkan karena rendahnya kemampuan membaca mereka. Barangkali penyebabnya adalah karena di dalam keluarga mereka tidak dibiasakan budaya membaca. Buku-buku dan majalah adalah benda langka untuk dijumpai.

Bukan berarti orang tua mereka tergolong tidak mampu. Malah orang tua dapat memenuhi kebutuhan permainan elektronika mungkin karena bersaing dengan anak tetangga. Dan begitu pula orang tua mereka mampu membeli sarana hiburan yang serba mewah meski sebagai prestise dan menunjukkan kepada lingkungan, karena sebagian orang kita bermental suka pamer, bahwa mereka termasuk orang yang cukup "the have".

Dalam zaman global informasi dan komunikasi ini, masih cukup banyak orang tua yang berfikiran mundur. Mereka akan mengatakan. bahwa berlangganan majalah itu percuma sebab tidak akan mengenyangkan perut. "Bukankah uangnya lebih baik untuk dibelikan sama kue", demikian menurut orang tua yang bersikap "stomach oriented". Ada lagi orang tua yang mencela anaknya yang sudah mulai gemar membaca sebagai membuang-buang waktu. Image seperti ini diperoleh dari keluarga pedagang dan tentunya tidak semua pedagang yang begitu, dimana bagi mereka waktu adalah benar-benar uang.

Murid-murid yang melarikan diri dari sekolah bisa jadi karena kejenuhan di dalam kelas karena tidak menguasai pelajaran. Rasa jenuh dapat mendatangkan rasa benci pada pelajaran dan berakhir dengan perseteruan antara guru-guru.

Macetnya komunikasi guru-murid dalam kelas disebabkan kepasifan murid dengan sikap yang suka membisu dalam seribu bahasa. Banyak juga guru yang kesal, begitu ia serius dalam proses belajar mengajar dan bertanya untuk mendapatkan umpan balik. Dan ketika ditanya "apakah kamu sudah paham atau belum mengerti", dijawab oleh murid dengan wajah "no comment"

Kesulitan murid dalam memahami pelajaran dan kepasifan murid dalam berkomunikasi, secara lisan dan tulisan, adalah karena anak atau murid lemah dalam kemampuan membaca. Penyebabnya karena mereka tidak terlatih dengan budaya membaca sejak dini.

Membaca adalah satu bagian dari aspek berbahasa. Dan bahasa adalah sarana untuk mengekspresikan fikiran. Orang yang bahasanya teratur maka fikirannya juga teratur. Sebaliknya dalam bahasa yang macet terdapat pula kemacetan dalam berfikir. Dan rata-rata murid yang macet dalam berfikir. Dan inilah yang harus kita atasi secepatnya.

Syukurlah kalau dalam suatu kelas, terutama di Sekolah Dasar, cukup banyak anak yang berlangganan majalah. Tentu mereka mendapat kemudahan dalam memahami setiap pelajaran. Memang ada korelasi langsung antara anak yang gemar membaca dengan prestasi mereka dalam belajar. Dan idealnya memang setiap anak memang harus gemar membaca. Maka kita patut mengacungkan jempol bagi orang tua murid yang menyokong anak mereka di rumah agar selalu membaca apalagi menyediakan bagi anak mereka dana khusus agar anak mereka dapat berlangganan majalah anak-anak.

Tampaknya hanya segelintir saja orang tua yang mampu baru mendorong anak mereka untuk membudayakan membaca di rumah. Dan cukup terbatas pula jumlah orang tua yang punya kelebihan dan untuk berlangganan majalah anak-anak. Tampaknya masih ada usaha lain yang dapat diterapkan oleh guru-guru untuk mengembangkan kebiasaan anak dalam membaca yaitu pemanfaatan pustaka sekolah.

Pernah suatu ketika seorang guru sekolah dasar mengatakan bahwa murid-muridnya cukup mempunyai minat dalam membaca. Buktinya kalau ada buku bacaan, murid-murid itu berebutan tidak sabar ingin memperolehnya. Tetapi sayang, katanya, sekolah itu tidak mempunyai guru perpustakaan.

Mestikah guru yang demikian tidak bertindak untuk menyalurkan keinginan anak untuk membaca dengan alasan tidak ada tenaga guru perpustakaan? Sementara itu murid yang dihadapinya sebagai guru kelas cuma berjumlah 25 orang, murid saja. Kita rasa dalam jumlah murid yang kecil itu guru kelas mungkin dapat mencari jalan keluarnya. Misalnya saja membawa buku bacaan sebanyak jumlah murid dan meminjamkannya untuk dibaca di rumah. Kemudian bagi yang banyak membaca kita kaitkan dengan nilai bahasa mereka, misalnya.

Pemanfaatan buku-buku bacaan seperti cara diatas cukup bermanfaat dalam pengembangan keterampilan membaca murid. Adapun untuk pengembangan keterampilan menulis adalah dengan membiasakan pemberian "tugas mengarang" kepada murid. Ada seorang penulis yang sangat terkesan akan gurnya ketika ia masih bersekolah di SD. Gurunya mewajibkan setiap murid untuk mengarang setiap minggu dan membacakannya di depan kelas. Inilah titik awal kenapa ia tertarik dalam bidang penulisan setelah dewasa.

Cara seperti ini sungguh bermanfaat untuk diterapkan oleh guru-guru sejak sekolah dasar, terus ke tingkat SLTP dan SLTA oleh guru bidang studi bahasa Indonesia. Apabila kebiasaan pemberian mengarang ini dilakukan oleh guru-guru secara kontinyu dan terprogram, maka insya Allah kita tidak melihat lagi siswa-siswi SMU kasak kusuk dalam menulis karya ilmiah sederhana. Dan begitu pula kebiasaan mahasiswa, calon sarjana, tidak akan lagi menciptakan skripsi "aspal" alias asli tapi palsu. Kita yakin kalau kemampuan menulis generasi kita sudah bagus, maka bursa penulisan skripsi liar tidak akan pernah ada lagi.

Masih ada lagi, agaknya, usaha yang kita lakukan untuk peningkatan SDM anak didik sedini mungkin. Misalnya membuat papan tempat berkreasi, semacam majalah dinding ala, siswa SLTA, dimana murid-murid SD dapat menempelkan kreasi-kreasi mereka apakah berupa gambar, puisi, cerpen dan lain-lain pada papan kreasi tersebut. Kita yakin bahwa animo murid-murid SD untuk berkreasi cukup tinggi karena pada dasarnya anak-anak kecil suka memamerkan kebolehannya. Demikianlah renungan kita dalam usaha peningkatan SDM sedini mungkin sejak sekolah dasar. Semoga

Oleh : Marjohan (Guru SMA Negeri 3 Batusangkar)

Sumber : http://penulisbatusangkar.blogspot.com/

Pendidikan menengah umum

Pendidikan menengah umum diselenggarakan oleh Sekolah Menengah Atas (SMA) atau Madrasah Aliyah (MA). Pendidikan menengah umum dikelompokkan dalam program studi sesuai dengan kebutuhan untuk belajar lebih lanjut di perguruan tinggi dan hidup di dalam masyarakat. Pendidikan menengah umum terdiri atas 3 (tiga) tingkat.

Pendidikan menengah kejuruan

Pendidikan menengah kejuruan diselenggarakan oleh Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) atau Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK). Pendidikan menengah kejuruan dikelompokkan dalam bidang kejuruan didasarkan pada perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni, dunia industri/dunia usaha, ketenagakerjaan baik secara nasional, regional maupun global, kecuali untuk program kejuruan yang terkait dengan upaya-upaya pelestarian warisan budaya. Pendidikan menengah kejuruan terdiri atas 3 (tiga) tingkat, dapat juga terdiri atas 4 (empat) tingkat sesuai dengan tuntutan dunia kerja.


Pendidikan menengah umum

Pendidikan menengah umum diselenggarakan oleh Sekolah Menengah Atas (SMA) atau Madrasah Aliyah (MA). Pendidikan menengah umum dikelompokkan dalam program studi sesuai dengan kebutuhan untuk belajar lebih lanjut di perguruan tinggi dan hidup di dalam masyarakat. Pendidikan menengah umum terdiri atas 3 (tiga) tingkat.


Pendidikan anak usia dini

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari

Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal.

Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.

Ada dua tujuan diselenggarakannya pendidikan anak usia dini yaitu:

  • Tujuan utama: untuk membentuk anak Indonesia yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan di masa dewasa.
  • Tujuan penyerta: untuk membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar (akademik) di sekolah.

Rentangan anak usia dini menurut Pasal 28 UU Sisdiknas No.20/2003 ayat 1 adalah 0-6 tahun. Sementara menurut kajian rumpun keilmuan PAUD dan penyelenggaraannya di beberapa negara, PAUD dilaksanakan sejak usia 0-8 tahun.

Ruang Lingkup Pendidikan Anak Usia Dini

  • Infant (0-1 tahun)
  • Toddler (2-3 tahun)
  • Preschool/ Kindergarten children (3-6 tahun)
  • Early Primary School (SD Kelas Awal) (6-8 tahun)